Pages

Selasa, 22 Maret 2011

I Miss You Mom

Sekarang usiaku sudah 19 tahun. Artinya, sudah 19 tahun aku keluar dari perut ibuku. Dan harusnya sudah 19 tahun aku hidup bersama ibu.

Sosok seorang ibu yang sangat kuhargai dan kuhormati, beliau adalah panutan untukku. Ia yang selalu merawatku dan memberi segala kebutuhanku. Aku sangat menyayanginya.

Ibuku memberi kasih sayang, memberi kehangatan serta melindungiku ketika tubuhku masih rentan. Ia adalah "Superhero" bagiku. Ia selalu ada tatkala aku membutuhkannya, ketika aku sakit dan ketika aku membutuhkan orang untuk berbagi kebahagiaan.

Senyum di wajahnya yang begitu sempurna, tak akan pernah lekang oleh waktu. Nasihat-nasihat yang terlontar dari mulutnya seakan selalu terngiang di telingaku.

Dulu, aku tinggal bersamanya berdua di rumah, karena bapakku bekerja dan pulangnya hanya sekali seminggu, sementara abang dan kakakku masih kuliah di Yogyakarta. Saat itu aku sakit, layaknya seorang anak kecil yang rentan terhadap penyakit. Aku mengeluh, meraung, menangis sampai membuatnya menangis. Tetesan air mata di wajahnya, tak terlupakan. Mungkin, itulah bentuk ungkapan kasih sayangnya padaku. Meskipun ia juga dalam keadaan sakit, tapi ia rela menggendongku yang berberat 25 kg, untuk berobat.

Ia tahu apa yang menjadi kesukaanku, mulai dari makanan, pakaian, mainan, bahkan jenis orang yang menjadi teman-temanku.

Ia juga pernah memarahiku, karena kenakalan dan kemanjaanku. Karena sering pulang terlalu sore, hingga lupa mandi dan makan.

Saat itu aku masih kelas 2 SD. Setiap pagi, aku dibanguninya. Disuruh mandi, sementara ia menyiapkan sarapan untukku. Begitu aku selesai mandi, aku memakai pakaian yang telah disiapkannya di atas tempat tidurku. Aku sudah rapi. Aku berlari menyusuri tangga rumah kami dan menghampirinya. Digiringnya aku ke teras depan rumah dan duduk di kursi itu berdua. Sambil ia menyulangiku, ia bercerita sembari memberi nasihat. Aku hanya sibuk menggoyang-goyangkan kakiku dan melahap nasi yang disuapkannya ke mulutku. Setelah selesai sarapan, bus sekolah datang. Ia mencium keningku dan memberiku uang saku, tidak banyak memang, hanya 3000 rupiah. Tapi, bagiku itu sudah cukup.

Hari-hariku lebih banyak kuhabiskan bersama teman-temanku di sekolah dan ibu. Demikian juga teman-teman di lingkungan rumahku. Setiap kali aku pulang sekolah, aku sering menemukan ibu tertidur di depan tv yang menyiarkan acara berita Liputan 6 Siang. Lalu aku makan siang. Setelah itu, pergi bermain dan kembali saat matahari mulai terbenam. Baju dan celanaku kotor, karena bermain kelereng. Lantas, ia menyuruhku mandi dan kemudian mengajakku makan malam.

Kami selalu melalui hari-hari seperti ini. Meskipun bapakku pulang, setiap hari Sabtu sore dan pergi lagi hari Senin subuh.

Hari itu, beberapa hari menjelang hari ulang tahunku. Aku meminta dibelikan sepeda baru yang bagus ke beliau. Tapi, ia tidak mengiakan permintaanku. Beberapa hari kemudian ia dan bapakku, mengajakku belanja. Awalnya aku hanya mengira ini adalah jalan-jalan yang biasa kami lakukan setiap minggu. Tapi, ternyata ia mengajakku ke toko sepeda.

Ia menyuruhku memilih sepeda yang kusuka, dan mereka membelikanku sepeda baru. Aku memang sangat senang saat itu. Di perjalanan menuju rumah, aku melihat Skuter yang terpampang di sebuah toko. Aku nyeletuk becanda, ingin dibelikan skuter itu. Tapi aku sadar, tidak mungkin lah. Sementara aku baru saja membeli sepeda baru, yang bagus pula.

Ini adalah hari ulang tahunku. Semua teman-temanku kuundang. Rumah dihias sedemikian rupa, penuh dengan ornamen-ornamen khas bila anak-anak merayakan ulang tahunnya. Siang itu, acara belum dimulai dan keluargaku belum ada satupun yang di rumah. Hanya aku dan sepupuku menunggu mereka di rumah.

Tak lama kemudian, mereka sudah pulang. Membawa cukup banyak barang belanjaan dan bingkisan. Hari semakin sore. Aku sudah rapi, menyambut kedatangan teman-temanku. Acara demi acara ku lalui, mulai dari kata sambutan-kata sambutan, doa-doa, pecah balon, games, potong kue, sulang-menyulang kue tar, sampai akhirnya pemberian kado. Teman-temanku memberikan kado mereka sambil menyalamiku, kemudian mengambil bingkisan dan pulang. Di saat semua sudah pulang, ibuku memelukku, memberi kado istimewa sebuah skuter baru. Yang awalnya hanya mimpi bagiku, tapi jadi kenyataan dibuatnya. Aku sangat senang tentunya. Dan ia juga memberiku baju kemeja bagus berwarna hitam. Tapi, aku tidak tahu kenapa, aku langsung bilang kalau aku tidak suka baju itu dan meninggalkannya. Hari itu sudah mulai malam, namun aku sibuk bermain skuter baru, sampai-sampai lupa makan.

Kemeriahan ulang tahunku kali itu, sangat luar biasa. Dan memang hanya itulah perayaan ulang tahunku yang kuingat.

Beberapa bulan kemudian, ibuku sakit dan pergi untuk selamanya. Meninggalkan aku yang masih membutuhkannya. Bagiku, ia pergi terlalu cepat, aku masih membutuhkan kasih sayangnya. Hingga pada saat pemakamannya, kakakku yang selalu ada di sampingku memakaikanku kemeja hitam kado ibuku dulu, yang pernah ku tolak. Sembari memakaikanku kemeja itu, kakakku bercerita, itu adalah kemeja terakhir yang bisa dibelikan ibu untukku. Itu adalah kado terakhirnya. Sambil ia menitikkan air mata dan kemudian memelukku.

Itu adalah saat terakhirku merayakan ulang tahunku bersamanya. Seakan ia telah tahu ini akan terjadi, ia berusaha mengabulkan semua keinginanku. Ia mewujudkan apa yang menjadi mimpi-mimpiku. Kasih sayangnya tulus untukku.

Kini, tidak ada lagi yang membanguniku saat akan pergi sekolah. Menyiapkan seragam sekolahku. Menyuapiku sarapan. Menunggu aku pulang bermain. Memarahiku saat pakaianku kotor dan pulang terlalu lama. Aku tidak akan menemukan lagi sosok ibu, yang tertidur saat aku pulang sekolah.

Kadang rumah itu terasa sangat sepi. Aku rindu teriakan beliu saat memanggilku untuk makan. Rumah itu memang terlalu sepi. Hanya keheningan yang dapat kurasakan. Aku pulang sekolah, berlari menaiki tangga, berharap ia kembali dan tertidur di depan tv. Tapi itu hanya harapan kosong. Hanya kekecewaan yang kudapatkan.

Hingga aku menyadari, bahwa kakakku masih ada di sampingku. Ia berusaha memberikan yang terbaik untukku. Ia melakukan apa yang dulu dilakukan ibuku padaku. Hingga akhirnya kakakku menikah dan pergi bersama suaminya. Dan aku tinggal bersama bapakku, yang mulai lebih sering pulang.

I Miss You Mom...
This song, I sing for you.

Ooh Bunda
Ada dan tiada
Dirimu kan selalu
Ada di dalam hatiku...

*** Jangan sia-sia kan kasih sayang seorang ibu, ketika kita masih bisa merasakannya ***

*** Ketika ia tak lagi di sampingmu, bahagiakan ia dengan hidupmu saat ini ***

2 komentar:

Kholid Abrori Ahda mengatakan...

Tulis teruuussss... kangen emak gue juga nih!

Enda Tarigan mengatakan...

Woke braderr... :D . kalo kangen, telfon aja bray...

Posting Komentar