Guys, gue mau cerita dikit nih tentang yang namanya persahabatan...
Gue sendiri awalnya bingung apa sih itu sahabat dan persahabatan? Gimana sih, sampai kita bisa memiliki yang namanya sahabat?
Klise memang...
Gue pernah baca satu buku, "lupa judulnya". Intinya dia bilang, sahabat itu tidak datang dengan sendirinya, harus ada usaha mencari. Suatu proses selektif harus dilakukan untuk menemukan yang namanya sahabat.
Sahabat bukan cuma yang bisa kita ajak main. Yang hanya untuk merasakan kesenangan bersama, disaat gue mau berbagi kesenangan dia ada, tapi ketika susah, ya "dia asal ada aja".
Ada perbedaan antara teman dan sahabat, kalo gue sendiri memandangnya sahabat itu lebih intens. Memiliki lebih banyak manfaat.
Ketika lo senang, lo bisa bagiin ke dia, maka dia juga ikut senang donk? (pelajarannya : lo belajar berbagi)
Tapi pas dia susah, lo harus ada. Lo ngebantuin dia, meskipun ini membuat hidup lo ga seperti yang biasa atau menambah bahan pikiran lo. (pelajarannya : lo belajar mengerti keadaan orang lain)
Nah, gue juga pernah dengar talkshow dari luar negeri tentang friendship, "lupa juga judulnya" tapi ini gue tonton waktu gue masih di SMA kelas 3. Dari talkshow itu, kita disuruh mengungkapkan perasaan kita ke seorang teman yang kita anggap pantas untuk menjadi sahabat (sesudah melalui proses seleksi tadi). Jadi, disini kita seperti "nembak" pacar. Tapi ini kita lakukan sama temen. Kita harus ungkapkan, kalau kita memang ingin menjadi sahabatnya.
Sulit ya?? Memang.
Banyak yang harus kita korbankan. Misalnya rasa "GENGSI" ketika kita harus bilang 'dia' itu baik, gengsi bilang 'dia' itu bisa jadi motivasi kita, gengsi bilang lo nyaman sama dia. Pokoknya, pasti banyaklah ke-GENGSI-an yang kita rasakan. Nah, itulah yang harus kita lawan.
Kita harus berani bilang "itu tadi" ke dia. Supaya dia juga tau tentang perasaan lo.
Nggak jarang, RASA MALU kian muncul ketika kita harus mengungkapkannya. Kita terlalu takut resikonya, misalnya takut dia bilang gini :
1. Emang gue mau sahabatan sama lo?
2. Siapa sih lo, sok deket amat?
3. Jangan lebay dehh...
4. Yaelah, apaan sih lo?
5. and many more
Tapi, lo harus yakin. Tunjukin ke dia, lo memang mau jadi sahabatnya, (lo yang duluan ngomong, bukan berarti lo lebih buruk). Misalnya gini, "Tits, lo itu ternyata orangnya baik ya, gue ga nyngka selama ini lo ada buat gue. blablablabla... Setelah gue pikir-pikir, kenapa kita ga sahabatan aja? Gue mau jadi sahabat lo, blablabla...
Seandainya, lo hanya ngejalani hari-hari lo bareng dia. Tapi, ga pernah terlontar sekalipun kata "dia sahabat gue", "lo sahabat gue yang paling baik", "Gue bakal jadi sahabat terbaik buat lo", atau apalah...gue kira itu semua (maaf yee) BULLSHIT.
Gue kira, itu sama aja yang namanya teman. Yang bisa diajak seneng doank. Terkadang kata-kata itu, malah membuat kita lebih dekat, di samping harus ada perbuatan nyata juga.
Dalam bersahabat, komunikasi juga sangat penting. Gimana mau sahabatan, kalo lo aja jarang ngomongan? (ngomong bisa melalui berbagai media, ga cuma face to face loo..)
Komunikasi harus tetap terjaga dengan baik, artinya harus tetap ada komunikasi setiap waktu (kalo bisa tiap hari malah). Gimana caranya, bisa komunikasi tiap hari? sama pacar gue aja ga pernah...haha
Simple, kalo lo ketemu ya barenganlah cerita-cerita hal ga penting (artinya ga mesti pas yang penting aja baru ngomong). Terus kalo ga ketemu, kan ada banyak media, misalnya dari Social Networking, lo komen2 kek, cerita ga jelas disitu, walau sebentar tapi yang terpenting kualitas. Atau lewat sms, yang isinya misalnya "gue bosen nih", "Assekk, gue lagi makan bareng Justin Bieber #ngimpikaliyee", "Gue lagi di kampus, tapi bosen sama dosennya", "gue laperrr", "hihiii, si doi ngajakin gue jalan", atau bahkan cuma nulis "huaaayaaaammm (lo ngantuk maksudnya)". Buat dia kaya Sosial Networking lo, update status lo ke dia. Karena, kekonyolan malah membuat lebih dekat.
Ketika lo berbagi hal sepele seperti itu, artinya sudah mulai terjalin hubungan yang lebih intens yaitu persahabatan. Kemana lagi lo ngomong ga penting kalo gak ke sahabat?. Ke teman? Ntar, lo malah dianggep "apaaan sih nih anak, freaks deh". Tapi, kalo ke sahabat lo sendiri, gak usah ada "JAIM2an", biarkan dia tahu gimana lo luar-dalem.
Mungkin lo nganggep, kalo hal sepele kaya "komunikasi ini dan adanya ritual mengungkapkan keinginan menjadi sahabat" adalah hal ga penting. Lo SALAH !!. Karena melalui itu, menurut referensi gue, kita bakal saling menyadari tentang keberadaan seorang sahabat.
Jadi, lo bisa liat kan bedanya sahabat sama temen?
Kalo temen, ga bisa untuk melakukan kekonyolan, ke-freaky-an dan kebodohan2, tapi bersama sahabat lo bisa lakuin. So, having fun with your friendship guys. Take your friendship as soon as possible.
Tampilkan postingan dengan label CamPoR-CamPoR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CamPoR-CamPoR. Tampilkan semua postingan
Rabu, 30 Maret 2011
Selasa, 22 Maret 2011
I Miss You Mom
Sekarang usiaku sudah 19 tahun. Artinya, sudah 19 tahun aku keluar dari perut ibuku. Dan harusnya sudah 19 tahun aku hidup bersama ibu.
Sosok seorang ibu yang sangat kuhargai dan kuhormati, beliau adalah panutan untukku. Ia yang selalu merawatku dan memberi segala kebutuhanku. Aku sangat menyayanginya.
Ibuku memberi kasih sayang, memberi kehangatan serta melindungiku ketika tubuhku masih rentan. Ia adalah "Superhero" bagiku. Ia selalu ada tatkala aku membutuhkannya, ketika aku sakit dan ketika aku membutuhkan orang untuk berbagi kebahagiaan.
Senyum di wajahnya yang begitu sempurna, tak akan pernah lekang oleh waktu. Nasihat-nasihat yang terlontar dari mulutnya seakan selalu terngiang di telingaku.
Dulu, aku tinggal bersamanya berdua di rumah, karena bapakku bekerja dan pulangnya hanya sekali seminggu, sementara abang dan kakakku masih kuliah di Yogyakarta. Saat itu aku sakit, layaknya seorang anak kecil yang rentan terhadap penyakit. Aku mengeluh, meraung, menangis sampai membuatnya menangis. Tetesan air mata di wajahnya, tak terlupakan. Mungkin, itulah bentuk ungkapan kasih sayangnya padaku. Meskipun ia juga dalam keadaan sakit, tapi ia rela menggendongku yang berberat 25 kg, untuk berobat.
Ia tahu apa yang menjadi kesukaanku, mulai dari makanan, pakaian, mainan, bahkan jenis orang yang menjadi teman-temanku.
Ia juga pernah memarahiku, karena kenakalan dan kemanjaanku. Karena sering pulang terlalu sore, hingga lupa mandi dan makan.
Saat itu aku masih kelas 2 SD. Setiap pagi, aku dibanguninya. Disuruh mandi, sementara ia menyiapkan sarapan untukku. Begitu aku selesai mandi, aku memakai pakaian yang telah disiapkannya di atas tempat tidurku. Aku sudah rapi. Aku berlari menyusuri tangga rumah kami dan menghampirinya. Digiringnya aku ke teras depan rumah dan duduk di kursi itu berdua. Sambil ia menyulangiku, ia bercerita sembari memberi nasihat. Aku hanya sibuk menggoyang-goyangkan kakiku dan melahap nasi yang disuapkannya ke mulutku. Setelah selesai sarapan, bus sekolah datang. Ia mencium keningku dan memberiku uang saku, tidak banyak memang, hanya 3000 rupiah. Tapi, bagiku itu sudah cukup.
Hari-hariku lebih banyak kuhabiskan bersama teman-temanku di sekolah dan ibu. Demikian juga teman-teman di lingkungan rumahku. Setiap kali aku pulang sekolah, aku sering menemukan ibu tertidur di depan tv yang menyiarkan acara berita Liputan 6 Siang. Lalu aku makan siang. Setelah itu, pergi bermain dan kembali saat matahari mulai terbenam. Baju dan celanaku kotor, karena bermain kelereng. Lantas, ia menyuruhku mandi dan kemudian mengajakku makan malam.
Kami selalu melalui hari-hari seperti ini. Meskipun bapakku pulang, setiap hari Sabtu sore dan pergi lagi hari Senin subuh.
Hari itu, beberapa hari menjelang hari ulang tahunku. Aku meminta dibelikan sepeda baru yang bagus ke beliau. Tapi, ia tidak mengiakan permintaanku. Beberapa hari kemudian ia dan bapakku, mengajakku belanja. Awalnya aku hanya mengira ini adalah jalan-jalan yang biasa kami lakukan setiap minggu. Tapi, ternyata ia mengajakku ke toko sepeda.
Ia menyuruhku memilih sepeda yang kusuka, dan mereka membelikanku sepeda baru. Aku memang sangat senang saat itu. Di perjalanan menuju rumah, aku melihat Skuter yang terpampang di sebuah toko. Aku nyeletuk becanda, ingin dibelikan skuter itu. Tapi aku sadar, tidak mungkin lah. Sementara aku baru saja membeli sepeda baru, yang bagus pula.
Ini adalah hari ulang tahunku. Semua teman-temanku kuundang. Rumah dihias sedemikian rupa, penuh dengan ornamen-ornamen khas bila anak-anak merayakan ulang tahunnya. Siang itu, acara belum dimulai dan keluargaku belum ada satupun yang di rumah. Hanya aku dan sepupuku menunggu mereka di rumah.
Tak lama kemudian, mereka sudah pulang. Membawa cukup banyak barang belanjaan dan bingkisan. Hari semakin sore. Aku sudah rapi, menyambut kedatangan teman-temanku. Acara demi acara ku lalui, mulai dari kata sambutan-kata sambutan, doa-doa, pecah balon, games, potong kue, sulang-menyulang kue tar, sampai akhirnya pemberian kado. Teman-temanku memberikan kado mereka sambil menyalamiku, kemudian mengambil bingkisan dan pulang. Di saat semua sudah pulang, ibuku memelukku, memberi kado istimewa sebuah skuter baru. Yang awalnya hanya mimpi bagiku, tapi jadi kenyataan dibuatnya. Aku sangat senang tentunya. Dan ia juga memberiku baju kemeja bagus berwarna hitam. Tapi, aku tidak tahu kenapa, aku langsung bilang kalau aku tidak suka baju itu dan meninggalkannya. Hari itu sudah mulai malam, namun aku sibuk bermain skuter baru, sampai-sampai lupa makan.
Kemeriahan ulang tahunku kali itu, sangat luar biasa. Dan memang hanya itulah perayaan ulang tahunku yang kuingat.
Beberapa bulan kemudian, ibuku sakit dan pergi untuk selamanya. Meninggalkan aku yang masih membutuhkannya. Bagiku, ia pergi terlalu cepat, aku masih membutuhkan kasih sayangnya. Hingga pada saat pemakamannya, kakakku yang selalu ada di sampingku memakaikanku kemeja hitam kado ibuku dulu, yang pernah ku tolak. Sembari memakaikanku kemeja itu, kakakku bercerita, itu adalah kemeja terakhir yang bisa dibelikan ibu untukku. Itu adalah kado terakhirnya. Sambil ia menitikkan air mata dan kemudian memelukku.
Itu adalah saat terakhirku merayakan ulang tahunku bersamanya. Seakan ia telah tahu ini akan terjadi, ia berusaha mengabulkan semua keinginanku. Ia mewujudkan apa yang menjadi mimpi-mimpiku. Kasih sayangnya tulus untukku.
Kini, tidak ada lagi yang membanguniku saat akan pergi sekolah. Menyiapkan seragam sekolahku. Menyuapiku sarapan. Menunggu aku pulang bermain. Memarahiku saat pakaianku kotor dan pulang terlalu lama. Aku tidak akan menemukan lagi sosok ibu, yang tertidur saat aku pulang sekolah.
Kadang rumah itu terasa sangat sepi. Aku rindu teriakan beliu saat memanggilku untuk makan. Rumah itu memang terlalu sepi. Hanya keheningan yang dapat kurasakan. Aku pulang sekolah, berlari menaiki tangga, berharap ia kembali dan tertidur di depan tv. Tapi itu hanya harapan kosong. Hanya kekecewaan yang kudapatkan.
Hingga aku menyadari, bahwa kakakku masih ada di sampingku. Ia berusaha memberikan yang terbaik untukku. Ia melakukan apa yang dulu dilakukan ibuku padaku. Hingga akhirnya kakakku menikah dan pergi bersama suaminya. Dan aku tinggal bersama bapakku, yang mulai lebih sering pulang.
I Miss You Mom...
This song, I sing for you.
Ooh Bunda
Ada dan tiada
Dirimu kan selalu
Ada di dalam hatiku...
Sosok seorang ibu yang sangat kuhargai dan kuhormati, beliau adalah panutan untukku. Ia yang selalu merawatku dan memberi segala kebutuhanku. Aku sangat menyayanginya.
Ibuku memberi kasih sayang, memberi kehangatan serta melindungiku ketika tubuhku masih rentan. Ia adalah "Superhero" bagiku. Ia selalu ada tatkala aku membutuhkannya, ketika aku sakit dan ketika aku membutuhkan orang untuk berbagi kebahagiaan.
Senyum di wajahnya yang begitu sempurna, tak akan pernah lekang oleh waktu. Nasihat-nasihat yang terlontar dari mulutnya seakan selalu terngiang di telingaku.
Dulu, aku tinggal bersamanya berdua di rumah, karena bapakku bekerja dan pulangnya hanya sekali seminggu, sementara abang dan kakakku masih kuliah di Yogyakarta. Saat itu aku sakit, layaknya seorang anak kecil yang rentan terhadap penyakit. Aku mengeluh, meraung, menangis sampai membuatnya menangis. Tetesan air mata di wajahnya, tak terlupakan. Mungkin, itulah bentuk ungkapan kasih sayangnya padaku. Meskipun ia juga dalam keadaan sakit, tapi ia rela menggendongku yang berberat 25 kg, untuk berobat.
Ia tahu apa yang menjadi kesukaanku, mulai dari makanan, pakaian, mainan, bahkan jenis orang yang menjadi teman-temanku.
Ia juga pernah memarahiku, karena kenakalan dan kemanjaanku. Karena sering pulang terlalu sore, hingga lupa mandi dan makan.
Saat itu aku masih kelas 2 SD. Setiap pagi, aku dibanguninya. Disuruh mandi, sementara ia menyiapkan sarapan untukku. Begitu aku selesai mandi, aku memakai pakaian yang telah disiapkannya di atas tempat tidurku. Aku sudah rapi. Aku berlari menyusuri tangga rumah kami dan menghampirinya. Digiringnya aku ke teras depan rumah dan duduk di kursi itu berdua. Sambil ia menyulangiku, ia bercerita sembari memberi nasihat. Aku hanya sibuk menggoyang-goyangkan kakiku dan melahap nasi yang disuapkannya ke mulutku. Setelah selesai sarapan, bus sekolah datang. Ia mencium keningku dan memberiku uang saku, tidak banyak memang, hanya 3000 rupiah. Tapi, bagiku itu sudah cukup.
Hari-hariku lebih banyak kuhabiskan bersama teman-temanku di sekolah dan ibu. Demikian juga teman-teman di lingkungan rumahku. Setiap kali aku pulang sekolah, aku sering menemukan ibu tertidur di depan tv yang menyiarkan acara berita Liputan 6 Siang. Lalu aku makan siang. Setelah itu, pergi bermain dan kembali saat matahari mulai terbenam. Baju dan celanaku kotor, karena bermain kelereng. Lantas, ia menyuruhku mandi dan kemudian mengajakku makan malam.
Kami selalu melalui hari-hari seperti ini. Meskipun bapakku pulang, setiap hari Sabtu sore dan pergi lagi hari Senin subuh.
Hari itu, beberapa hari menjelang hari ulang tahunku. Aku meminta dibelikan sepeda baru yang bagus ke beliau. Tapi, ia tidak mengiakan permintaanku. Beberapa hari kemudian ia dan bapakku, mengajakku belanja. Awalnya aku hanya mengira ini adalah jalan-jalan yang biasa kami lakukan setiap minggu. Tapi, ternyata ia mengajakku ke toko sepeda.
Ia menyuruhku memilih sepeda yang kusuka, dan mereka membelikanku sepeda baru. Aku memang sangat senang saat itu. Di perjalanan menuju rumah, aku melihat Skuter yang terpampang di sebuah toko. Aku nyeletuk becanda, ingin dibelikan skuter itu. Tapi aku sadar, tidak mungkin lah. Sementara aku baru saja membeli sepeda baru, yang bagus pula.
Ini adalah hari ulang tahunku. Semua teman-temanku kuundang. Rumah dihias sedemikian rupa, penuh dengan ornamen-ornamen khas bila anak-anak merayakan ulang tahunnya. Siang itu, acara belum dimulai dan keluargaku belum ada satupun yang di rumah. Hanya aku dan sepupuku menunggu mereka di rumah.
Tak lama kemudian, mereka sudah pulang. Membawa cukup banyak barang belanjaan dan bingkisan. Hari semakin sore. Aku sudah rapi, menyambut kedatangan teman-temanku. Acara demi acara ku lalui, mulai dari kata sambutan-kata sambutan, doa-doa, pecah balon, games, potong kue, sulang-menyulang kue tar, sampai akhirnya pemberian kado. Teman-temanku memberikan kado mereka sambil menyalamiku, kemudian mengambil bingkisan dan pulang. Di saat semua sudah pulang, ibuku memelukku, memberi kado istimewa sebuah skuter baru. Yang awalnya hanya mimpi bagiku, tapi jadi kenyataan dibuatnya. Aku sangat senang tentunya. Dan ia juga memberiku baju kemeja bagus berwarna hitam. Tapi, aku tidak tahu kenapa, aku langsung bilang kalau aku tidak suka baju itu dan meninggalkannya. Hari itu sudah mulai malam, namun aku sibuk bermain skuter baru, sampai-sampai lupa makan.
Kemeriahan ulang tahunku kali itu, sangat luar biasa. Dan memang hanya itulah perayaan ulang tahunku yang kuingat.
Beberapa bulan kemudian, ibuku sakit dan pergi untuk selamanya. Meninggalkan aku yang masih membutuhkannya. Bagiku, ia pergi terlalu cepat, aku masih membutuhkan kasih sayangnya. Hingga pada saat pemakamannya, kakakku yang selalu ada di sampingku memakaikanku kemeja hitam kado ibuku dulu, yang pernah ku tolak. Sembari memakaikanku kemeja itu, kakakku bercerita, itu adalah kemeja terakhir yang bisa dibelikan ibu untukku. Itu adalah kado terakhirnya. Sambil ia menitikkan air mata dan kemudian memelukku.
Itu adalah saat terakhirku merayakan ulang tahunku bersamanya. Seakan ia telah tahu ini akan terjadi, ia berusaha mengabulkan semua keinginanku. Ia mewujudkan apa yang menjadi mimpi-mimpiku. Kasih sayangnya tulus untukku.
Kini, tidak ada lagi yang membanguniku saat akan pergi sekolah. Menyiapkan seragam sekolahku. Menyuapiku sarapan. Menunggu aku pulang bermain. Memarahiku saat pakaianku kotor dan pulang terlalu lama. Aku tidak akan menemukan lagi sosok ibu, yang tertidur saat aku pulang sekolah.
Kadang rumah itu terasa sangat sepi. Aku rindu teriakan beliu saat memanggilku untuk makan. Rumah itu memang terlalu sepi. Hanya keheningan yang dapat kurasakan. Aku pulang sekolah, berlari menaiki tangga, berharap ia kembali dan tertidur di depan tv. Tapi itu hanya harapan kosong. Hanya kekecewaan yang kudapatkan.
Hingga aku menyadari, bahwa kakakku masih ada di sampingku. Ia berusaha memberikan yang terbaik untukku. Ia melakukan apa yang dulu dilakukan ibuku padaku. Hingga akhirnya kakakku menikah dan pergi bersama suaminya. Dan aku tinggal bersama bapakku, yang mulai lebih sering pulang.
I Miss You Mom...
This song, I sing for you.
Ooh Bunda
Ada dan tiada
Dirimu kan selalu
Ada di dalam hatiku...
*** Jangan sia-sia kan kasih sayang seorang ibu, ketika kita masih bisa merasakannya ***
*** Ketika ia tak lagi di sampingmu, bahagiakan ia dengan hidupmu saat ini ***
*** Ketika ia tak lagi di sampingmu, bahagiakan ia dengan hidupmu saat ini ***
Minggu, 20 Februari 2011
Tak Berujung dan Tak Bermakna
Suasana kampus mulai terasa sepi, ketika Ujian Akhir Semester selesai dilaksanakan. Anak-anak rantau memutuskan untuk balik ke kampung halaman mereka masing-masing untuk melepas rindu dengan sanak keluarga yang dulu selalu mengiasi hari-hari mereka.
Satu per satu, mereka melangkahkan kaki keluar dari sebuah kota MEGAPOLITAN Jatinangor. Suasana kian semakin sepi, jalanan yang dulu ramai dilewati manusia berwajah letih dengan kerutan di keningnya, kini hanya dilewati beberapa orang bercelana pendek dengan alas kaki seadanya.
Siang itu warung-warung di pinggir jalan kian sepi pelanggan, dagangan yang dulu laris kini seakan menumpuk. Hanya lalat yang beterbangan di atas daging kecil berwarna kecoklatan yang berbau harum di atas panggangan, ibu penjual nasi di warung itu terlihat murung mengelus keningnya sambil sesekali mengipas lalat yang terbang di atas dagangannya.
Suara bis, motor, mobil yang berlalu lalang kini mengurangi intensitasnya, tidak seperti biasanya berdengung terus-menerus hingga hampir membuat kepala pecah. Debu dan polusi pun semakin berkurang.
Hari semakin sore ketika matahari memutuskan untuk kembali ke peradabannya, meninggalkan keheningan di jalanan itu. Sejenak aktivitas orang-orang disekitar situ terhenti, tat kala suara adzan mengumandang dari masjid-masjid menambah suasana semakin haru.
Matahari telah pergi dan bulan pun datang. Lampu-lampu jalan berwarna-warni membuat malam itu indah. Dari kejauhan samar-samar terdengar suara radio tua memutar lagu dengan melodi melow, sepertinya adalah lagu sunda.
Di jalanan itu tidak terlihat ada kendaraan berlalu lalang. Tapi dari ujung jalan yang tertutupi kabut itu terlihat cahaya kuning yang semakin mendekat. Semakin lama semakin mendekat. Tiba-tiba cahaya itu tepat di depan mata yang ternyata adalah cahaya dari lampu motor yang dikendarai seorang pemuda berjaket kulit hitam, ia mengemudi perlahan mungkin supaya tidak kedinginan.
Tiba-tiba lampu-lampu jalanan yang terlihat indah tadi lenyap dari pandanganku. Aku kembali menyusuri jalanan, menembus dinginnya kabut malam itu. Suara angin seakan bersiul di telingaku membuat bulu kudukku naik dan merinding. Aku merapatkan kedua bagian jaketku tanpa mengancingnya dan perlahan mengambil tutup kepala. Sesekali aku mengambil nafas dalam-dalam, begitu terasa dingin menusuk hingga ke paru-paruku.
"srek...srek...srek..." suara gesekan sandal yang kupakai terdengar seperti sebuah melodi, mungkin saking heningnya malam itu.
"awwuuuuuu..." anjing di seberang jalan itu pun mengaum, seakan melihat roh halus lewat (menurut orangtua-orantua zaman dulu), tentunya semakin menambah rasa gundah dihatiku. Aku mencoba tidak menghiraukan itu semua, aku berjalan terus, menatap ke bawah tepatnya aspal yang akan kujalani, tanpa melihat ke kanan, kiri, depan, belakang.
Aku merasa ini adalah tiba-tiba, aku sampai di sebuah kedai kelontong kecil. Sepertinya tidak ada orang disitu, tapi aku memanggil...
"permisii Aa, permisiii.."
Kemudian seorang lelaki paruh baya dengan kaus kutang usang dan kain sarung yang menutupi bagian kejantanannya menghampiriku dan bertanya dengan nada mendayu khas sunda.
"ia Aa, ada apa? mau beli apa ya?"
Aku sejenak berpikir, aku mau beli apa?. Aku sendiri bingung, karna memang aku tidak berencana membeli apapun...
Dengan gagap aku bilang saja, "saya mau beli korek, satu saja Aa"
Ia memberiku korek yang aku sendiri tidak tahu akan kuapakan. Kuterima koreknya dan kubayar dengan uang receh seharga lima ratus perak.
Kupandangi korek itu sambil menyusuri jalanan. Dan membaca tulisan-tulisan kecil di kotaknya. Kugenggam erat korek itu sambil menarik nafas panjang dan memasukkannya ke dalam saku celanaku. Kini kedua tanganku berada di dalam saku celanaku itu.
Berjalan dan berjalan terus, otakku kosong. Hanya dapat memandang apa yang ada di depanku dan berlalu ketika aku melaluinya. Terkadang aku senyam-senyum sendiri membayangkan hal lucu dipikiranku.
Angin malam itu bertiup begitu kencangnya, membuat penutup kepalaku lepas. Aku kedinginan. Lalu aku melepaskan tanganku dari saku dan berusaha membenarkan penutup kepala. Ternyata korek tadi juga terjatuh. Tapi aku belum menyadarinya. Setelah 10 langkah di depan dan ketika aku memasukkankan tanganku ke saku lagi baru aku menyadari korekku tadi hilang. Aku menoleh ke belakang tapi tak terlihat, berjalan mundur dan kemudian aku menemukannya kembali. Kugenggam erat lagi, kini kupegang terus ditanganku.
Kubuka perlahan baju petak yang menutupi badannya dan kepala-kepala yang terbuat dari sulfur, serbuk kaca, fosfor merah, dll itu. Kuangkat salah satunya, dan kugesekkan ke salah satu bagian di baju petak tersebut.
Tiba-tiba kepala itu berubah menjadi iblis dengan tanduk kecil dan taring tajam. Aku sempat ngeri melihat itu, karena tepat berada di depan wajahku. Kujauhkan, dan kupandangi.
Ternyata itu memberi kehangatan meski hampir membakar wajah. Aku tersenyum, dan kuulangi menggesek-gesekkannya di sepanjang jalan. Sampai akhirnya tinggal 1 kepala lagi. Kugesekkan dan aku tiba di depan sebuah kamar yang kecil tak berpenghuni dan kepala itu semakin kecil, semakin kecil dan akhirnya mati meninggalkan tubuhnya yang hangus.
Satu per satu, mereka melangkahkan kaki keluar dari sebuah kota MEGAPOLITAN Jatinangor. Suasana kian semakin sepi, jalanan yang dulu ramai dilewati manusia berwajah letih dengan kerutan di keningnya, kini hanya dilewati beberapa orang bercelana pendek dengan alas kaki seadanya.
Siang itu warung-warung di pinggir jalan kian sepi pelanggan, dagangan yang dulu laris kini seakan menumpuk. Hanya lalat yang beterbangan di atas daging kecil berwarna kecoklatan yang berbau harum di atas panggangan, ibu penjual nasi di warung itu terlihat murung mengelus keningnya sambil sesekali mengipas lalat yang terbang di atas dagangannya.
Suara bis, motor, mobil yang berlalu lalang kini mengurangi intensitasnya, tidak seperti biasanya berdengung terus-menerus hingga hampir membuat kepala pecah. Debu dan polusi pun semakin berkurang.
Hari semakin sore ketika matahari memutuskan untuk kembali ke peradabannya, meninggalkan keheningan di jalanan itu. Sejenak aktivitas orang-orang disekitar situ terhenti, tat kala suara adzan mengumandang dari masjid-masjid menambah suasana semakin haru.
Matahari telah pergi dan bulan pun datang. Lampu-lampu jalan berwarna-warni membuat malam itu indah. Dari kejauhan samar-samar terdengar suara radio tua memutar lagu dengan melodi melow, sepertinya adalah lagu sunda.
Di jalanan itu tidak terlihat ada kendaraan berlalu lalang. Tapi dari ujung jalan yang tertutupi kabut itu terlihat cahaya kuning yang semakin mendekat. Semakin lama semakin mendekat. Tiba-tiba cahaya itu tepat di depan mata yang ternyata adalah cahaya dari lampu motor yang dikendarai seorang pemuda berjaket kulit hitam, ia mengemudi perlahan mungkin supaya tidak kedinginan.
Tiba-tiba lampu-lampu jalanan yang terlihat indah tadi lenyap dari pandanganku. Aku kembali menyusuri jalanan, menembus dinginnya kabut malam itu. Suara angin seakan bersiul di telingaku membuat bulu kudukku naik dan merinding. Aku merapatkan kedua bagian jaketku tanpa mengancingnya dan perlahan mengambil tutup kepala. Sesekali aku mengambil nafas dalam-dalam, begitu terasa dingin menusuk hingga ke paru-paruku.
"srek...srek...srek..." suara gesekan sandal yang kupakai terdengar seperti sebuah melodi, mungkin saking heningnya malam itu.
"awwuuuuuu..." anjing di seberang jalan itu pun mengaum, seakan melihat roh halus lewat (menurut orangtua-orantua zaman dulu), tentunya semakin menambah rasa gundah dihatiku. Aku mencoba tidak menghiraukan itu semua, aku berjalan terus, menatap ke bawah tepatnya aspal yang akan kujalani, tanpa melihat ke kanan, kiri, depan, belakang.
Aku merasa ini adalah tiba-tiba, aku sampai di sebuah kedai kelontong kecil. Sepertinya tidak ada orang disitu, tapi aku memanggil...
"permisii Aa, permisiii.."
Kemudian seorang lelaki paruh baya dengan kaus kutang usang dan kain sarung yang menutupi bagian kejantanannya menghampiriku dan bertanya dengan nada mendayu khas sunda.
"ia Aa, ada apa? mau beli apa ya?"
Aku sejenak berpikir, aku mau beli apa?. Aku sendiri bingung, karna memang aku tidak berencana membeli apapun...
Dengan gagap aku bilang saja, "saya mau beli korek, satu saja Aa"
Ia memberiku korek yang aku sendiri tidak tahu akan kuapakan. Kuterima koreknya dan kubayar dengan uang receh seharga lima ratus perak.
Kupandangi korek itu sambil menyusuri jalanan. Dan membaca tulisan-tulisan kecil di kotaknya. Kugenggam erat korek itu sambil menarik nafas panjang dan memasukkannya ke dalam saku celanaku. Kini kedua tanganku berada di dalam saku celanaku itu.
Berjalan dan berjalan terus, otakku kosong. Hanya dapat memandang apa yang ada di depanku dan berlalu ketika aku melaluinya. Terkadang aku senyam-senyum sendiri membayangkan hal lucu dipikiranku.
Angin malam itu bertiup begitu kencangnya, membuat penutup kepalaku lepas. Aku kedinginan. Lalu aku melepaskan tanganku dari saku dan berusaha membenarkan penutup kepala. Ternyata korek tadi juga terjatuh. Tapi aku belum menyadarinya. Setelah 10 langkah di depan dan ketika aku memasukkankan tanganku ke saku lagi baru aku menyadari korekku tadi hilang. Aku menoleh ke belakang tapi tak terlihat, berjalan mundur dan kemudian aku menemukannya kembali. Kugenggam erat lagi, kini kupegang terus ditanganku.
Kubuka perlahan baju petak yang menutupi badannya dan kepala-kepala yang terbuat dari sulfur, serbuk kaca, fosfor merah, dll itu. Kuangkat salah satunya, dan kugesekkan ke salah satu bagian di baju petak tersebut.
Tiba-tiba kepala itu berubah menjadi iblis dengan tanduk kecil dan taring tajam. Aku sempat ngeri melihat itu, karena tepat berada di depan wajahku. Kujauhkan, dan kupandangi.
Ternyata itu memberi kehangatan meski hampir membakar wajah. Aku tersenyum, dan kuulangi menggesek-gesekkannya di sepanjang jalan. Sampai akhirnya tinggal 1 kepala lagi. Kugesekkan dan aku tiba di depan sebuah kamar yang kecil tak berpenghuni dan kepala itu semakin kecil, semakin kecil dan akhirnya mati meninggalkan tubuhnya yang hangus.
Jumat, 24 Desember 2010
Malam Natal
"Jingle bells, jingle bells
Jingle all the way..."
Itulah sepenggal lirik lagu yang sering kita nyanyikan ketika Natal tiba.
Dengan penuh sukacita kita bernyanyi dan merasakan Damai Natal hadir di tengah kehidupan kita.
2 hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 23 Desember 2010, saya bersama teman-teman Permata Jatinangor melakukan bakti sosial dalam rangka berbagi berkat dalam Natal, bersama saudara-saudara kita yang kurang beruntung, yang tinggal di alun-alun kota Bandung.
Di tengah gelapnya malam, yang hanya disinari lampu-lampu jalan dan lampu kendaraan yang satu-satu masih terlihat lalu lalang. Tergeletak beberapa onggok tubuh segar di sepanjang emperan toko/rumah. Berlapiskan koran-koran bekas, mereka tertidur pulas, tiupan angin malam yang begitu dingin tidak membuat mereka gelisah, seakan tubuh dingin itu telah kebal terhadap angin malam.
Kamipun menghampiri satu per satu onggokan tubuh yang tertidur pulas itu.
"Selamat malam pak...permisii", tidak ada jawaban ataupun gerakan dari tubuh dingin itu.
"Selamat malam, maaf menggangu" juga tidak ada balasan...
Hingga akhirnya, aku menyentuh tubuh itu dan beliau terbangun dari mimpinya.
"Selamat malam pak, maaf kami mengganggu istirahat Bapak"
Dengan cepat ia menjawab, "Ia, ada apa mas? Tidak, tidak mengganggu kok."
"Ooh begitu, sebelumnya perkenalkan, nama saya Raja dan teman saya Daen" kami bersalaman dengan tangan yang terlihat kotor itu.
"Ia, saya Asep" katanya.
Beliau menyambut kami dengan wajah yang kelihatan lelah, kemudian kami berbincang. Ia mengatakan bahwa ia berasal dari sebuah desa di Jawa Barat, tepatnya Majalaya. Ia bekerja sebagai pemulung karena keluarganya sudah tidaka ada lagi. Bahkan, ia hanya bisa mendapatkan 15 lembar uang pecahan seribu rupiah. Namun, baginya itu adalah sukacita yang luar biasa.
Setelah berbincang-bincang, kami memberikan bingkisan yang kami bawa. Sekedar untuk makan malam atau sarapan. Tapi ia menerima dengan penuh sukacita. Senyum lebar mewarnai perbincangan kami, meskipun terkadang ceritanya membuat hati sedikit tercabik.
Jalan demi jalan kami telusuri dan memberikan bingkisan yang ada. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 01.30 pagi. Kami bergegas untuk memutar lagu langkah menuju Jatinangor.
Setelah sampai di kosan pukul 2.30, aku mulai memejamkan mata kecil ini. Dan keesokan harinya terbangun pukul 3 sore. Badanku terasa lelah, mataku terasa kaku, leherku rasanya ingin patah. Tapi aku menyadari bahwa ini adalah tanggal 24 Desember. Waktunya untuk bermalam natal.
Aku sangat berharap malam natal kali ini tidak hanya biasa-biasa saja, aku sangat berharap dapat merasakan Damai Natal yang penuh sukacita. Dan kemudian aku memutuskan untuk berangkat ke sebuah gereja suku yaitu GBKP yang ada di Jl. Lombok kota Bandung.
Diperjalanan naik bus, aku bersama teman-teman tidak mendapat kursi tempat duduk, hingga kami harus berdiri di bagian koridor bus itu.
Aku mulai terdiam, berdiri, menatap ke arah luar jendela. Terlihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Langit yang mulai menguning terpantul dalam genangan air yang ada di setiap petak sawah sepanjang perjalanan. Bukit-bukit yang sebagian tubuhnya tertutupi awan, terlihat kuning keemasan dengan titik hujan kecil membuat mataku tidak bisa lepas dari pemandangan ini, ditambah terlantun lagu-lagu sendu di dalam bus. Membuat suasana saat itu begitu damai.
Kekhawatiran mulai muncul, bila kami terlambat sampai di tujuan. Karena kemacetan di sepanjang tol tidak kunjung selesai. Tapi akhirnya, bus yang kami tumpangi sampai tidak terlalu jauh dari yang seharusnya. Dan kamipun sampai di Jalan Lombok.
Kami sampai dan mulai khusuk dalam ibadah. Malam puji-pujian yang cukup mengjiburku, dimana aku bisa bernyanyi sepuas hati dengan suasana yang kental dengan budaya karo. Menari dan bernyanyi memuliakan namaNya.
Hingga ibadah selesai, kami pulang dan aku sendiri di kosan.
Aku mulai merenung ditemani lantunan lagu-lagu natal dan kerlipan lampu natal yang indah. Doa demi doa kupanjatkan kepadaNya. Berharap, harapan-harapanku dapat terkabul...
Setelah aku merenung, barulah aku mulai mengetik kata demi kata di postingan ini.
Berharap aku dapat berbagi cerita, meskipun hanya di dunia maya.
Sungguh Malam Natal yang indah, semoga Natalnya nanti bernilai lebih dari ini.

Jingle all the way..."
Itulah sepenggal lirik lagu yang sering kita nyanyikan ketika Natal tiba.
Dengan penuh sukacita kita bernyanyi dan merasakan Damai Natal hadir di tengah kehidupan kita.
2 hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 23 Desember 2010, saya bersama teman-teman Permata Jatinangor melakukan bakti sosial dalam rangka berbagi berkat dalam Natal, bersama saudara-saudara kita yang kurang beruntung, yang tinggal di alun-alun kota Bandung.
Di tengah gelapnya malam, yang hanya disinari lampu-lampu jalan dan lampu kendaraan yang satu-satu masih terlihat lalu lalang. Tergeletak beberapa onggok tubuh segar di sepanjang emperan toko/rumah. Berlapiskan koran-koran bekas, mereka tertidur pulas, tiupan angin malam yang begitu dingin tidak membuat mereka gelisah, seakan tubuh dingin itu telah kebal terhadap angin malam.
Kamipun menghampiri satu per satu onggokan tubuh yang tertidur pulas itu.
"Selamat malam pak...permisii", tidak ada jawaban ataupun gerakan dari tubuh dingin itu.
"Selamat malam, maaf menggangu" juga tidak ada balasan...
Hingga akhirnya, aku menyentuh tubuh itu dan beliau terbangun dari mimpinya.
"Selamat malam pak, maaf kami mengganggu istirahat Bapak"
Dengan cepat ia menjawab, "Ia, ada apa mas? Tidak, tidak mengganggu kok."
"Ooh begitu, sebelumnya perkenalkan, nama saya Raja dan teman saya Daen" kami bersalaman dengan tangan yang terlihat kotor itu.
"Ia, saya Asep" katanya.
Beliau menyambut kami dengan wajah yang kelihatan lelah, kemudian kami berbincang. Ia mengatakan bahwa ia berasal dari sebuah desa di Jawa Barat, tepatnya Majalaya. Ia bekerja sebagai pemulung karena keluarganya sudah tidaka ada lagi. Bahkan, ia hanya bisa mendapatkan 15 lembar uang pecahan seribu rupiah. Namun, baginya itu adalah sukacita yang luar biasa.
Setelah berbincang-bincang, kami memberikan bingkisan yang kami bawa. Sekedar untuk makan malam atau sarapan. Tapi ia menerima dengan penuh sukacita. Senyum lebar mewarnai perbincangan kami, meskipun terkadang ceritanya membuat hati sedikit tercabik.
Jalan demi jalan kami telusuri dan memberikan bingkisan yang ada. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 01.30 pagi. Kami bergegas untuk memutar lagu langkah menuju Jatinangor.
Setelah sampai di kosan pukul 2.30, aku mulai memejamkan mata kecil ini. Dan keesokan harinya terbangun pukul 3 sore. Badanku terasa lelah, mataku terasa kaku, leherku rasanya ingin patah. Tapi aku menyadari bahwa ini adalah tanggal 24 Desember. Waktunya untuk bermalam natal.
Aku sangat berharap malam natal kali ini tidak hanya biasa-biasa saja, aku sangat berharap dapat merasakan Damai Natal yang penuh sukacita. Dan kemudian aku memutuskan untuk berangkat ke sebuah gereja suku yaitu GBKP yang ada di Jl. Lombok kota Bandung.
Diperjalanan naik bus, aku bersama teman-teman tidak mendapat kursi tempat duduk, hingga kami harus berdiri di bagian koridor bus itu.
Aku mulai terdiam, berdiri, menatap ke arah luar jendela. Terlihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Langit yang mulai menguning terpantul dalam genangan air yang ada di setiap petak sawah sepanjang perjalanan. Bukit-bukit yang sebagian tubuhnya tertutupi awan, terlihat kuning keemasan dengan titik hujan kecil membuat mataku tidak bisa lepas dari pemandangan ini, ditambah terlantun lagu-lagu sendu di dalam bus. Membuat suasana saat itu begitu damai.
Kekhawatiran mulai muncul, bila kami terlambat sampai di tujuan. Karena kemacetan di sepanjang tol tidak kunjung selesai. Tapi akhirnya, bus yang kami tumpangi sampai tidak terlalu jauh dari yang seharusnya. Dan kamipun sampai di Jalan Lombok.
Kami sampai dan mulai khusuk dalam ibadah. Malam puji-pujian yang cukup mengjiburku, dimana aku bisa bernyanyi sepuas hati dengan suasana yang kental dengan budaya karo. Menari dan bernyanyi memuliakan namaNya.
Hingga ibadah selesai, kami pulang dan aku sendiri di kosan.
Aku mulai merenung ditemani lantunan lagu-lagu natal dan kerlipan lampu natal yang indah. Doa demi doa kupanjatkan kepadaNya. Berharap, harapan-harapanku dapat terkabul...
Setelah aku merenung, barulah aku mulai mengetik kata demi kata di postingan ini.
Berharap aku dapat berbagi cerita, meskipun hanya di dunia maya.
Sungguh Malam Natal yang indah, semoga Natalnya nanti bernilai lebih dari ini.

Merry X-Mas 2010 & Happy New Year 2011
(The Savior is coming)
(The Savior is coming)
Kamis, 23 Desember 2010
Prepare for Christmas Party
Bulan Desember identik dengan Natal. Mulai dari 1 Desember, aroma Natal sudah tercium begitu pekatnya. Apalagi semakin mendekati tanggal 25 Desember seperti ini..ehmm harummm.. haha
Kita mengenal yang namanya Minggu Advent yang artinya Minggu Penentian, dalam minggu penantian ini, tentunya kita bisa mempersiapkan segala sesuatunya agar pada saatnya tiba kita bisa menerima Sukacita dan Syaloom yang luar biasa dari Dia.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan :
Semoga natal kali ini membawa Damai Sejahtera penuh untukku dan keluarga.
Kita mengenal yang namanya Minggu Advent yang artinya Minggu Penentian, dalam minggu penantian ini, tentunya kita bisa mempersiapkan segala sesuatunya agar pada saatnya tiba kita bisa menerima Sukacita dan Syaloom yang luar biasa dari Dia.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan :
- First of all, pastinya kita harus mempersiapkan HATI kita. Mempersiapkannya agar bisa menerima kehadiranTuhan Yesus Kristus hadir ke dunia ini, menajdi Juru Selamat yang Hidup. Yang mampu memberikan damai sejahtera buat kita sekalian.
- Berkat-berkat yang akan dibagikan di bulan Desember ini. Segala berkat yang telah kita terima dari Tuhan selama setahun ini, kiranya bisa juga kita salurkan ke saudara-saudara kita yang kurang beruntung.
- Mungkin kita bisa bilang, mempersiapkan perayaan-perayaan Natal, agar kita bisa lebih merasakan nikmatnya makna natal itu. hehe...
- Dan nggak ketinggalan, kayanya kita perlu menghias kamar, hehe..Mungkin dengan menghias pohon natal di kamar dan ornamen-ornamen natal lainnya. Musik-musik berbau natal mengumandang di seantero kamar. Kerlipan lampu natal menambah suasana hening dan penuh berkat.
- Mungkin masih banyak lagi yang bisa kita lakuin, silahkan ditambahii...
Semoga natal kali ini membawa Damai Sejahtera penuh untukku dan keluarga.
Merry Christmas everyone
Tuhan Memberkati
Tuhan Memberkati
UAS Pertama Di Universitas Padjadjaran
Minggu-minggu belakangan ini, aku disibukkan dengan tugas-tugas, presentasi, dan akhirnya uas di pelupuk mata.
Awalnya ketegangan mampir, karena ini merupakan UAS pertamaku di tingkat kuliah. Tapi setelah dijalani tidak terlalu berbeda dengan SMA, mungkin perbedaannya hanya di Materi dan tingkat kesulitannya saja.
UAS demi UAS kujalani dengan persiapan yang kubilang kurang matang, hingga akhirnya UAS pun berlalu.
Begitu UAS selesai, aku dan teman-teman dari Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, FISIP UNPAD 2010 langsung pengen ngerayain kebebsan ini hehe, langsung aja kita nonton NARNIA (pada saat postingan ini dibuat, Narnia masih booming). Terus makan, jalan, dlll...pokoknya seru abisss...
Kepenatan selama beberapa minggu ini sedikit terobati memang hehe...
Ya, sekarang kita sudah libur dan tinggal nunggu hasil kerja keras selama ini, apapun yg terjadi nanti, itulah gambaran kerja kerasku selama ini....
Semoga hasilnya memuaskan hehe, Semangatttttt....
Awalnya ketegangan mampir, karena ini merupakan UAS pertamaku di tingkat kuliah. Tapi setelah dijalani tidak terlalu berbeda dengan SMA, mungkin perbedaannya hanya di Materi dan tingkat kesulitannya saja.
UAS demi UAS kujalani dengan persiapan yang kubilang kurang matang, hingga akhirnya UAS pun berlalu.
Begitu UAS selesai, aku dan teman-teman dari Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, FISIP UNPAD 2010 langsung pengen ngerayain kebebsan ini hehe, langsung aja kita nonton NARNIA (pada saat postingan ini dibuat, Narnia masih booming). Terus makan, jalan, dlll...pokoknya seru abisss...
Kepenatan selama beberapa minggu ini sedikit terobati memang hehe...
Ya, sekarang kita sudah libur dan tinggal nunggu hasil kerja keras selama ini, apapun yg terjadi nanti, itulah gambaran kerja kerasku selama ini....
Semoga hasilnya memuaskan hehe, Semangatttttt....
Rabu, 22 September 2010
Stress...
Akhir.akhir ini, masalah2 banyak dateng dan sampe postingan ini dibuat itu masi menetap dikehidupanku.
Payah memang, menjalani sesuatu bila kita merasa itu adalah beban. Tapi walau bagaimanapun, semuanya harus dijalani. Maka, kita harus pintar-pintar dalam menyikapi suatu masalah, apapun bentuknya.
Terkadang, untuk mengungkapkan semuanya ke orang lain terasa sulit, bahkan sangat sulit ketika kita merasa tidak mau orang lain ikut terbeban.
Namun, akibat kita menyimpannya sendirian, stress yg mendalam pun, bisa menghampiri sampai2 kita melupakan satu tujuan hidup kita.
Mungkin dengan menulis kita bisa sedikit lega. Tapi dengan doa semuanya akan terasa nyaman.
Tapi, aku sendiri belum berani untuk berdoa. Mungkin terlalu takut untuk kehilangan masalah itu.
Kebimbangan pasti menyelimuti, keraguan pasti ada, ketakutan menghantui, dan gundah hadir setiap saat. Membuat otakku tdk bisa berpikir seperti biasa.
Banyak bantuan dan semangat yang diberikan orang2 sekeliling, membuat pikiran sedikit lebih tenang. Tapi sampai sekarang, aku belum mendapatkan jalan keluar setiap masalahku.
Apa ini namanya pengecut??
Apa ini namanya pecundang??
Apa ini namanya lemah??
Apa ini namanya bodoh??
Atau apa??
Semoga semua masalah cepat selesai.
Payah memang, menjalani sesuatu bila kita merasa itu adalah beban. Tapi walau bagaimanapun, semuanya harus dijalani. Maka, kita harus pintar-pintar dalam menyikapi suatu masalah, apapun bentuknya.
Terkadang, untuk mengungkapkan semuanya ke orang lain terasa sulit, bahkan sangat sulit ketika kita merasa tidak mau orang lain ikut terbeban.
Namun, akibat kita menyimpannya sendirian, stress yg mendalam pun, bisa menghampiri sampai2 kita melupakan satu tujuan hidup kita.
Mungkin dengan menulis kita bisa sedikit lega. Tapi dengan doa semuanya akan terasa nyaman.
Tapi, aku sendiri belum berani untuk berdoa. Mungkin terlalu takut untuk kehilangan masalah itu.
Kebimbangan pasti menyelimuti, keraguan pasti ada, ketakutan menghantui, dan gundah hadir setiap saat. Membuat otakku tdk bisa berpikir seperti biasa.
Banyak bantuan dan semangat yang diberikan orang2 sekeliling, membuat pikiran sedikit lebih tenang. Tapi sampai sekarang, aku belum mendapatkan jalan keluar setiap masalahku.
Apa ini namanya pengecut??
Apa ini namanya pecundang??
Apa ini namanya lemah??
Apa ini namanya bodoh??
Atau apa??
Semoga semua masalah cepat selesai.
Senin, 13 September 2010
Liburan Di Kostan
Sekarang udah libur.
Semua kegiatan kampus uda slese. Awalnya mendengar kalo mau libur seneng bgt. Tapi pas uda libur ga tau kenapa rasanya ko jadi pengen kuliah.
Mungkin karna bosan ga ada kerjaan apa ya??
hhee
Soalnya selama libur hanya kongkow d kostan, mantengin tv, MAMRE (Man, Medem, Rende / Makan, Tidur, Nyanyi) hoho.
Kalopun mau keluar harus memutar otak dan berpikir, soalnya takut atm terkuras abiss hehe
Meskipun sebenarnya slama ini uda banyak planning mau kemana tapi semua BATALLL.
Woiii anyone kirim nyasar la ke rek.ku supaya bisa aku melangkahkan kaki keluar kostan. hahaha
Tapi meskipun kaya gitu, syukuri aja la apa yg ada. Toh masi bisa ngumpul ma anak2, masak bareng, makan bareng, kongkow bareng, pokoknya semua bisa dilalui bareng anak2 CIPUT.
Ga lupa juga, RUKUN juga oke tuh. hohoho
Kapan yaa bisa liburan bareng ke luar kota?? Balii..baliii..baliii..baliii...
Semua kegiatan kampus uda slese. Awalnya mendengar kalo mau libur seneng bgt. Tapi pas uda libur ga tau kenapa rasanya ko jadi pengen kuliah.
Mungkin karna bosan ga ada kerjaan apa ya??
hhee
Soalnya selama libur hanya kongkow d kostan, mantengin tv, MAMRE (Man, Medem, Rende / Makan, Tidur, Nyanyi) hoho.
Kalopun mau keluar harus memutar otak dan berpikir, soalnya takut atm terkuras abiss hehe
Meskipun sebenarnya slama ini uda banyak planning mau kemana tapi semua BATALLL.
Woiii anyone kirim nyasar la ke rek.ku supaya bisa aku melangkahkan kaki keluar kostan. hahaha
Tapi meskipun kaya gitu, syukuri aja la apa yg ada. Toh masi bisa ngumpul ma anak2, masak bareng, makan bareng, kongkow bareng, pokoknya semua bisa dilalui bareng anak2 CIPUT.
Ga lupa juga, RUKUN juga oke tuh. hohoho
Kapan yaa bisa liburan bareng ke luar kota?? Balii..baliii..baliii..baliii...
Jumat, 26 Maret 2010
Ingatlah hari ini, akhir 3 tahun silam
Hari ini… begitu berartiTiga tahun sudah, kita tlah lewati
Malam ini… hanya kau dan aku
Mengenang semua rasa yang pernah ada
Masa-masa yang indah penuh warna
Dan juga canda ceria
Slamat tinggal teman, hapuslah air matamu
Aku pergi jauh namun kan kembali
Slamat tinggal sobat
Jadikan hari ini, sebagai satu kisah
Yang manis dan kan terus dikenang
***
soBh, lambat Waktu kiTa KaN berpiSaHTak Kan Da laGi caNda Dan taWa dari semUa
LantaI kelas, meja, bangKu tak kan pernaH kiTa temui LagI
di Pagi HarI Tak kAn aDa Lagi susaNa MengerJakan tuGas
Di sianK HarI Tak kaN aDa Lagi suSaNa menuNggU Detik2 Jam puLanG
Senang Sedih kiTa LalUi berSamA
SaAt cerItA, saling BerbAgi Tak Kan perNh lagi kiTa jumPai
Waktu mmg cepat bLalu temAnkU
kMaren kiTa Baru BerkenalaN
skRnG kiTa Kan bpiSaH
pUtih abU2 Tak Kan terPakAi LagI
Yang aDa hanYalaH
"KenangAn di SaAt MaSa SmA"
***
(Let's sing)Kamu sangat berarti
Istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti
Kita t'lah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
***
WARNING!!
Ini adalah lagu-lagu dan sms pilihan yang sedang beredar.!.!
Bukan mxd mencuri ato apa, tapi trima kasih buat, pemilik asli.
***The End***
UN uda berakhir
Hari ini, Jumat, 26 Maret 2010 UN-ku uda selesai...
Ga perlu lagi begadang sampe pagi dan ga perlu njejelin kopi lagi ke mulut saiia, karna untuk saat ini uda bisa tidur lebih awal. hoho
Sedikit lega memang, setelah 5 hari urat2 di leher tegang dan keningku berkerut akhirnya uda bisa kembali rilex. (Hari ini tidur siankk sampe puass, haha)
Tapi perjuangan belum berakhir dan bukan cuma sampe disini, masi byk lagi ujian-ujian yang harus dilalui untuk mendapatkan hak menjadi seorang "MAHASISWA". Semoga aja semua bisa dilalui...
Apa lagi yang akan menungguku di depan?? kita saksikan kisah selanjutnya hanya di E.TV. wkwk
Hope Jesus give me a miracle to be a succes man in the future. Thx elot God, amien.
Ga perlu lagi begadang sampe pagi dan ga perlu njejelin kopi lagi ke mulut saiia, karna untuk saat ini uda bisa tidur lebih awal. hoho
Sedikit lega memang, setelah 5 hari urat2 di leher tegang dan keningku berkerut akhirnya uda bisa kembali rilex. (Hari ini tidur siankk sampe puass, haha)
Tapi perjuangan belum berakhir dan bukan cuma sampe disini, masi byk lagi ujian-ujian yang harus dilalui untuk mendapatkan hak menjadi seorang "MAHASISWA". Semoga aja semua bisa dilalui...
Apa lagi yang akan menungguku di depan?? kita saksikan kisah selanjutnya hanya di E.TV. wkwk
Hope Jesus give me a miracle to be a succes man in the future. Thx elot God, amien.
Selasa, 12 Januari 2010
Natal Sekolah, SMAN 1 Sidikalang 2009
Natal...
Natal yang merupakan suatu hari yang begitu suci bagi umat Kristiani telah kami rayakan. Kami adalah keluarga besar SMA N 1 Sidikalang.
Natal yang kali ini saya ketuai, ternyata berakhir dengan hikmat ...
Mulai dari awal pembentukan panitia, rapat-rapat/perencanaan natal hingga pelaksanaan ternyata membutuhkan tenaga yang begitu besar. Aku harus rela mondar-mandir bak gosokan, untuk merencakan natal kami bersama teman-teman maupun guru-guru.
Bukan hanya tenaga, tapi hak.ku sebagai pelajarpun kurelakan untuk sedikit terganggu, karena aku harus siap sedia kapanpun diperlukan untuk membahas tentang natal.
Bahkan, hampir setiap hari aku harus bolos les, tapi untungnya guru-guru di kelasku cukup dapat mengerti keadaanku, dan aku sangat berterima kasih untuk itu.
Buat temen-temen panitia, terima kasih banyak atas kerjasama yang baik dari kalian. Hingga akhirnya natal kita dapat berjalan sesuai rencana.
Buat Bapak dan Ibu guru pembimbing pnitia natal juga terima kasih banyak buk, pak.
Serta buat Bapak Kepala Sekolah, juga terima kasih, karena sudah mempermudah segala sesuatu yang telah kami rencakan dan tentunya atas kerjasama yang baik juga dari Bapak.
Dan buat seluruh temen-temen di SMANSASI, terima kasih atas tanggapan-tanggapan, perhatian selama latihan dan plaksanaan natal kita.
Dan buat temen-temenku dan keluargaku yang tidak dapat ku cantumkan namanya 1/1 terima kasih buat supportnya ya..
Dan yang terutama dari semuanya, terima kasih ya TUHAN, buat segala penyertaanMU,..
Kiranya, Kau lindungilah dan berikanlah hikmat kebijaksanaanMU kepadaku ya TUHAN..AMIN.
Natal yang merupakan suatu hari yang begitu suci bagi umat Kristiani telah kami rayakan. Kami adalah keluarga besar SMA N 1 Sidikalang.
Natal yang kali ini saya ketuai, ternyata berakhir dengan hikmat ...
Mulai dari awal pembentukan panitia, rapat-rapat/perencanaan natal hingga pelaksanaan ternyata membutuhkan tenaga yang begitu besar. Aku harus rela mondar-mandir bak gosokan, untuk merencakan natal kami bersama teman-teman maupun guru-guru.
Bukan hanya tenaga, tapi hak.ku sebagai pelajarpun kurelakan untuk sedikit terganggu, karena aku harus siap sedia kapanpun diperlukan untuk membahas tentang natal.
Bahkan, hampir setiap hari aku harus bolos les, tapi untungnya guru-guru di kelasku cukup dapat mengerti keadaanku, dan aku sangat berterima kasih untuk itu.
Buat temen-temen panitia, terima kasih banyak atas kerjasama yang baik dari kalian. Hingga akhirnya natal kita dapat berjalan sesuai rencana.
Buat Bapak dan Ibu guru pembimbing pnitia natal juga terima kasih banyak buk, pak.
Serta buat Bapak Kepala Sekolah, juga terima kasih, karena sudah mempermudah segala sesuatu yang telah kami rencakan dan tentunya atas kerjasama yang baik juga dari Bapak.
Dan buat seluruh temen-temen di SMANSASI, terima kasih atas tanggapan-tanggapan, perhatian selama latihan dan plaksanaan natal kita.
Dan buat temen-temenku dan keluargaku yang tidak dapat ku cantumkan namanya 1/1 terima kasih buat supportnya ya..
Dan yang terutama dari semuanya, terima kasih ya TUHAN, buat segala penyertaanMU,..
Kiranya, Kau lindungilah dan berikanlah hikmat kebijaksanaanMU kepadaku ya TUHAN..AMIN.
